BI Rate Tinggi, Bank Syariah Terancam Stagnan

Sejumlah kalangan mengkhawatirkan pertumbuhan perbankan syariah Indonesia terancam stagnan atau diam ditempat kalau Bank Indonesia (BI) menetapkan suku bunga acuan (BI rate) yang tinggi diatas 9,5 persen. Pasalnya, pamor bank syariah untuk menarik dana masyarakat akan menurun akibat tingginya bunga yang ditawarkan bank konvensional.

Presiden Direktur Karim Business Consulting Adiwarman karim mengatakan kalau BI menerjemahkan langsung rumus penetapan BI rate harus dua persen lebih tinggi dari inflasi maka bank syariah bisa berhenti laju pertumbuhannya karena kesulitan bersaing dengan bank konvensional. “Saya kira pertumbuhan bank syariah masih bisa berjalan jika BI rate paling tinggi 9,5 persen,” kata Karim beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan bahwa tingginya inflasi tahunan pada Juni 2008 menghantam bank umum syariah dari dua sisi. Pertama, lanjut dia, di sektor bisnis artinya inflasi yang bisa mendorong berkurangnya daya beli konsumen menurun berakibat pada berkurangnya penjualan bisnis yang pada akhirnya mempengaruhi kemampuan bayar debitur. “Pembiayaan macet pun berpotensi bakal meningkat,” ujarnya. Yang kedua, naiknya BI rate mendorong lembaga penjamin simpanan ikut menaikkan suku bunga penjaminan. Naiknya bunga penjaminan bisa membuat perbankan menaikkan suku bunga simpanan yang sulit diikuti oleh perbankan syariah. Sehingga bank syarih kurang kompetitif dan berpotensi menurunkan dana pihak ketiga.

Menurutnya, BI Rate memang harus naik tapi tidak lebih dari 1,5 persen sampai akhir tahun. Kondisi stagnan, kata dia, pernah terjadi pada 2006 saat BI Rate mencapai 12 persen. Hingga April 2008 aset bank-bank syariah telah mencapai Rp 40 triliun, sedangkan pada April 2007 hanya mencapai Rp 30 triliun dengan tingkat kredit macet pembiayaan mencapai 4 persen. “Sampai akhir tahun bisa mencapai Rp 10 triliun pertumbuhannya,” katanya.

Hal senada diungkapkan Kepala Divisi Syariah HSBC Amanah Syariah Mahmoud Abushamma. Menurut dia, inflasi tinggi akan memberi dampak besar bagi pembiayaan yang bermargin tetap, karena tingkat keuntungannya tergerus inflasi. Tapi, kalau pembiayaannya menggunakan sistem bagi hasil yang tidak tetap (variable) bisa menjaga margin keuntungan karena bisa mengikuti pergerakan inflasi.

“HSBC Syariah porsi pembiayaan fix dan variablenya 50:50 sehingga kami optimis semua target bisa tercapai,” ujar dia.

Advertisement

One Response to “BI Rate Tinggi, Bank Syariah Terancam Stagnan”

  1. arif pitoyo Says:

    HSBC ada syariahnya? kalo di asalnya sono ada gak yah yang syariah??
    anyway, this writing is good story….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.